Imlek dari Orde Lama hingga Orde Baru Jokowi

By | January 28, 2017

096682500_1485426262-8676113_orig

Jakarta, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menggelar kegiatan Malam Budaya Tionghoa dalam rangka menyambut perayaan Tahun Baru ke-2568 Imlek di Gelanggang Seni Budaya Blambangan, Rabu malam, 25 Januari 2017.

Mengenakan baju khas warna merah, ratusan warga Tionghoa dari berbagai wilayah di Banyuwangi berkumpul bersama. Mereka tampak bergembira dan bersuka cita.

Lampion-lampion yang menjadi ciri khas perayaan Imlek semakin menambah semarak suasana di sepanjang lokasi yang berada di jantung Kota Banyuwangi itu.

Kesenian khas masyarakat Tionghoa ditampilkan dan berpadu dengan kesenian khas Suku Using (masyarakat asli Banyuwangi), seperti musik pengiring angklung, tari pitik-pitikan, hingga kesenian barong.

Ketua Paguyuban Warga Tionghoa Banyuwangi Pek Ing Gwan mengapresiasi perayaan tahun baru Imlek tahun ini. Karena hal itu menununjukkan bahwa keberagaman yang ada di Banyuwangi menghasilkan masyarakat yang harmonis.

“Acara ini sangat bagus untuk memupuk rasa saling memahami dan menghormati. Di setiap acara hari besar yang kami gelar, kami juga selalu melengkapi suguhan dengan mengangkat budaya lokal untuk tampil bersama, sehingga semua hidup dalam harmoni,” kata Indrawan, sapaan akrab Pek Ing Gwan, Kamis 26 Januari 2017.

Sementara, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang hadir bersama Wabup Yusuf Widiyatmoko mengatakan, acara ini digelar untuk semakin memupuk kebersamaan di tengah masyarakat.

“Tak hanya kesenian warga Tionghoa yang ditampilkan, namun juga kesenian lokal. Ini benar-benar wujud dari keberagaman di Banyuwangi yang harus dimaknai sebagai realitas sosial yang mesti disikapi dengan bijak, yaitu dengan saling menghargai dan menghormati,” ujar Anas.

Menurut Anas, meski di Banyuwangi banyak etnis, budaya, dan agama, tidak pernah ada polemik. “Banyuwangi adalah daerah aman dan damai sehingga tidak pernah ada konflik antarumat,” ujar dia.

Anas mengatakan, perayaan Imlek ini juga sebagai upaya penguatan bersama warga Tionghoa dalam membangun Banyuwangi. Warga Tionghoa dan kelompok masyarakat lain mesti berpadu bersama pemerintah dalam membantu penyelesaian permasalahan kemasyarakatan, seperti problem siswa putus sekolah dan warga miskin.

“Di Banyuwangi jumlah anak yang putus sekolah tercatat ada lima ribu lebih. Sekarang tersisa tinggal 93 anak yang belum teratasi. Capaian ini akan lebih hebat lagi jika warga Tionghoa ikut keroyokan terlibat bersama pemerintah,” kata Anas.

“Demikian pula untuk pekerjaan rumah lain, seperti peningkatan kualitas sanitasi warga, juga akan lebih mudah diselesaikan jika semua bergandengan tangan, termasuk warga Tionghoa.”

Bupati Banyuwangi menambahkan, suasana menjelang Imlek mengingatkannya pada sosok Abdurrahman Wahid, presiden keempat RI. Gus Dur merupakan tokoh yang memberi ruang bagi upaya saling menghargai dalam perbedaan.

Mutiarapoker.com Situs Agen POKER dan Agen DOMINO online Terbaik & terpercaya di Indonesia. Mutiarapoker.com memberikan pelayanan 24 jam Deposit & Withdraw cepat dan aman dengan minimal deposit hanya Rp.10.000. Kami hadir untuk para pencintaPOKER Onlinedan DOMINO Online uang asli dengan bonus jackpot serta berbagai promo menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *